Pengalaman Baby Blues dan Beberapa Faktor Penyebabnya, ibuknyawening
Baby blues pernah dirasakan sebagian besar ibu. Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan seorang ibu mengalami baby blues. Baby blues merupakan depresi ringan yang kerap kali dialami oleh ibu yang baru melahirkan. Walaupun tergolong ringan, ada beberapa kasus kekerasan kepada anak atau bahkan melukai diri sendiri akibat baby blues. Baby blues yang seperti ini bisa jadi depresi ringan yang dibiarkan sehingga berakibat fatal bagi jiwa ibu. Saya salah satu ibu yang pernah mengalami baby blues. Alhamdulillah saya dapat melewati baby blues tersebut tanpa ada yang harus terluka. Apa sajakah hal-hal yang bisa menyebabkan baby blues?

Belum Siap Menghadapi Kesulitan Saat Memiliki Anak

Saat saya hamil, saya sudah menyiapkan berbagai pengetahuan tentang melahirkan, menyusui, dan merawat anak. Saya tidak pernah tahu bahwa melahirkan akan terasa begitu sakit bahkan walaupun saya melahirkan secara normal rasa sakit jahitannya juga masih terasa hingga sekitar satu bulan. Mama saya dulu melahirkan dengan cara normal tanpa kendala apapun dan katanya tidak terasa sakit. Maka dari itu, dalam bayangan saya melahirkan itu tidak terasa apa-apa. Awalnya saya bisa menahan rasa sakit ketika kontraksi, namun saya mulai merasa tidak kuat menahan kontraksi saat saya akhirnya diinduksi. Rasa sakit sebelum dan setelah melahirkan tersebut cukup membuat saya kaget. Tidak hanya sampai di situ. Rasa sakit saat menyusui juga membuat saya mulai depresi.

Kurang Tidur dan Harus Sering Begadang

Rasa sakit jahitan yang belum sembuh ditambah lagi setiap malam saya harus begadang. Setiap malam Wening menangis meminta ASI atau bahkan juga saya harus bangun untuk mengganti popok setiap kali pipis atau pup. Bahkan bayi bsru lahir intensitas pupnya masih sering, berawarna kehitaman, dan sulit dibersihkan. Seorang ibu harus menahan kantuk setiap malam. Ketika pagi tiba, saya juga harus bangun untuk memulai aktivitas seperti biasa. Hal ini menyebabkan saya mulai merasa lelah akibat kurang tidur.

Merasa Kurang Diperhatikan dan Merasa Sendirian

Setiap malam, saya harus terbangun menenangkan Wening. Entah menyusui atau mengganti popok kainnya. Saya harus bangun seorang diri. Maka dari itu, lama kelamaan saya merasa kurang diperhatikan dan saya merasa sendirian. Hal ini juga dirasakan sebagian besar ibu yang baru melahirkan. Ibu akan mulai merasa tidak puas dengan suami karena merasa suami kurang peka. Padahal memang bisa jadi suami terlalu lelah bekerja sehingga tidak sempat untuk membantu begadang di malam hari.

Pantangan Setelah Melahirkan

Setelah melahirkan biasanya seorang ibu harus melewati segala macam pantangan terutama bagi ibu menyusui. Ibu menyusui biasanya diharuskan untuk menjaga asupan makanan. Ibu menyusui dilarang untuk makan makanan pedas, air dingin, atau bahkan makanan dan minuman yang terlalu panas. Hal ini bertujuan untuk menjaga ASI agar tetap baik. Bahkan cara duduk atau berpakaian juga harus diatur. Biasanya ibu yang baru melahirkan harus memakai korset yang menyesakkan. Selain itu, ibu yang baru melahirkan terutama bayinya biasanya tidak diperbolehkan berpergian terlalu jauh. Sedangkan saya sangat suka jalan-jalan. Jalan-jalan merupakan bentuk refreshing bagi saya. Pada saat itu, saya mulai jenuh karena tidak bisa kemana-mana.

Kesulitan Saat Menyusui

Sebagian besar ibu merasa kesulitan saat menyusui. Kesulitan itu diantaranya, yaitu ASI yang tidak lancar atau bahkan puting yang sakit saat menyusui. Saya merasakan kedua hal tersebut.  Puting saya terasa sakit akibat luka dan mengelupas sehingga saya selalu merasa tidak nyaman ketika harus menyusui. Setiap mau menyusui saya seperti merasa ketakutan sendiri. Maka dari itu, saya membutuhkan waktu yang lama saat proses pelekatan menyusui. Rasa ketakutan menyusui ini ditambah juga dengan rasa kebingungan akibat anak yang menangis terus-menerus mencari ASI. Di satu sisi saya trauma akibat menyusui, di sisi lain saya harus tetap menyusui anak (baca selengkapnya Suka Duka MengASIhi serta Kiat-kiat Sukses MengASIhi Selama Dua Tahun).

Berat Badan Anak Tidak Kunjung Naik

Depresi yang saya alami juga diakibatkan oleh berat badan Wening yang tidak kunjung naik. Saya merasa ASI saya kurang. Saya merasa dilema antara memberikan susu formula atau tetap memperjuangkan ASI. Pergolakan hati tentang ASI dan susu formula ini membuat saya semakin depresi terlebih banyaknya komentar orang yang menyuruh memberikan susu formula atau bahkan ada juga yang membandingkan dengan orang yang ASInya tergolong lebih banyak. Saya sempat merasa menjadi ibu yang gagal karena ASI yang tidak lancar.

Terlalu Memikirkan Tentang Komentar Orang Lain

Bukan rahasia lagi memang kalau kebanyakan orang Indonesia sangat suka mengomentari orang lain. Tidak hanya yang sudah berpengalaman memiliki anak, biasanya yang belum berpengalaman pun ikut berkomentar hal serupa. Bisa jadi maksud mereka baik. Namun, biasanya hati ibu yang baru melahirkan memang agak sensitif ditambah rasa capek harus mengurus anak dan menahan rasa sakit setelah melahirkan. Jadi, setiap komentar orang lain akan terasa menyakitkan.

Bisa jadi masih banyak faktor penyebab baby blues lainnya. Baby blues bisa dialami oleh semua ibu yang baru melahirkan. Tidak memandang siapa bahkan tidak memandang sudah melahirkan anak ke berapa. Baby blues wajar dialami ibu baru. Maka dari itu, sebagai ibu yang baru melahirkan kita harus berusaha melewati masa sulit ini. Melalui pengalaman baby blues yang saya alami ini saya jadi tahu betapa pentingnya menjaga pembicaraan setiap bertemu dengan teman yang baru melahirkan agar tidak menyakiti hatinya. Saya juga jadi tahu betapa pentingnya rasa peduli yang ditunjukkan orang terdekat termasuk seorang suami (baca selengkapnya Proses Melewati Baby Blues, Kita Tidak Sendiri). Baby blues memang terasa menyakitkan namun kita harus bisa melewatinya. Kalau bisa utarakan rasa lelah yang dialami kepada suami agar hati bisa lebih merasa lega. Bisa jadi kita hanya butuh pendengar dan pelukan sebagai bentuk dukungan saja.