Baby blues merupakan syndrome setelah kehamilan yang lebih dikenal kerap dialami oleh para ibu. Namun, ternyata baby blues juga bisa dialami oleh ayah. Hal ini juga dialami oleh suami saya. Saya melihat syndrome ini tidak datang begitu saja. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi suami saya mengalami hal ini. Cegah baby blues dengan cara memahami faktor-faktornya agar dapat menghindarinya sejak dini.
Merasa Kurang Perhatian dari Istri
Suami merasa perhatian istri terhadapnya mulai berkurang. Segala hal tentang anak sekarang selalu diprioritaskan oleh istri. Sedangkan suami selalu menjadi nomor sekian. Bahkan sering terlupakan. Pada saat setelah hamil, segala aktivitas saya sepenuhnya saya lakukan untuk anak. Padahal sebelumnya saya selalu menyiapkan keperluan suami. Tetapi setelah memiliki anak, suami harus melakukannya sendiri. Sebenarnya tidak hanya istri yang selalu ingin dimanjakan, suami juga menginginkan hal yang sama. Seorang suami ingin diperhatikan oleh istrinya. Namun seluruh tenaga dan perhatian istri habis untuk merawat anak sehingga bisa jadi suami merasa perhatian istri sudah hilang.
Beban Tanggung Jawab Bertambah
Tanggung jawab seorang suami memang sudah berbeda dibandingkan ketika ia masih sendiri. Namun tanggung jawab tersebut belum begitu besar. Ketika sudah memiliki anak, otomatis tanggung jawabnya sudah sangat berbeda. Suami bahkan harus rela banyak mengalah demi anak dan istri. Dalam mencari penghasilan juga suami harus lebih memikirkan lagi bagaimana cara mendapat penghasilan yang cukup untuk keluarga. Kebutuhan untuk anak sangatlah banyak. Jadi, otomatis sebagai seorang ayah ia juga memiliki tanggung jawab memenuhi kebutuhannya.
Kurang Tidur
Tidak hanya seorang ibu, seorang ayah pastinya juga ikut terganggu jam tidurnya akibat anak yang menangis dan terbangun setiap malam. Berbeda dengan ibu yang bisa tidur di siang hari, suami yang bekerja tentunya tidak bisa tidur siang. Satu-satunya kesempatan ia untuk beristirahat adalah malam hari. Pada saat bekerja tentunya ia sudah sangat lelah. Namun ia tidak bisa istirahat dengan nyenyak sehingga dapat mengakibatkan baby blues.
Stres dalam Bekerja
Tidak dapat dipungkiri, bekerja di kantoran memang pasti disertai banyak tekanan. Setelah capek bekerja, biasanya suami akan butuh hiburan sekedar bercerita bersama istri seperti biasanya atau meluangkan waktu untuk menikmati hal-hal yang disukai. Namun, seorang ayah pastinya harus selalu mengalah terlehih ketika melihat istri sudah lelah karena seharian mengurus anak. Jadi, beban pekerjaan akhirnya disimpan sendiri dan tidak memiliki teman bercerita lagi. Akibatnya timbul stres dalam bekerja sehingga ketika di rumah pun ia merasakan lelah akibat anak yang menangis dan rewel.
Tuntutan Istri yang Banyak
Ketika sudah memiliki anak, biasanya istri menuntut banyak hal kepada suami. Suami harus mengerti kesibukan istri. Suami harus ikut membantu mengurus anak. Bisa jadi suami sudah sangat lelah setelah seharian bekerja namun di rumah harus dituntut untuk membantu istri lagi. Tidak hanya itu, biasanya setelah melahirkan istri lebih sensitif jadi suami dituntut untuk lebih peduli dan memahami istri. Tuntutan yang datang semenjak memiliki anak inilah yang juga bisa mengakibatkan suami mengalami baby blues.
Kurangnya Komunikasi
Setelah memiliki anak, energi suami dan istri tentunya sudah habis karena harus saling membantu dalam mengurus anak. Waktu yang biasanya digunakan untuk berkomunikasi, sharing, dan waktu berduaan pun berkurang. Sehingga kedekatan suami dengan istri pun semakin berkurang juga. Hal ini juga dapat menyebabkan segala hal yang kurang disukai oleh suami tidak tersampaikan dan bahkan dipendam sendiri. Memendam suatu problem dalam hubungan suami istri memang tidak baik. Suami akhirnya tidak dapat mengungkapkan rasa cemas dan lelah yang ia rasakan setelah memiliki anak. Pengaruhnya baby blues akan semakin dirasakan oleh suami.
Beberapa faktor tersebut bisa jadi juga dialami oleh ayah lainnya. Tidak
hanya suami yang harus mewaspadai gejala baby blues pada seorang istri.
Sebagai seorang istri, kita harusnya juga mewaspadai gejala baby blues
ini juga karena baby blues ternyata dapat dialami oleh para suami. Saya
pribadi memang lebih fokus kepada anak sehingga melupakan posisi suami
saat itu. Terlihat sangat egois karena sebenarnya suami juga butuh diperhatikan. Usahakan hindari faktor-faktor yang dapat menimbulkan munculnya
syndrome baby blues ini. Sehingga baby blues dapat dihindari sedini
mungkin. Baby blues wajar dialami siapa saja. Baik ayah maupun ibu.
Namun kita harus membatasi agar baby blues yang dirasakan tidak terlalu
besar sehingga tidak berpengaruh buruk terhadap anak, diri sendiriz
maupun pasangan. Ayah dan ibu harus saling mendukung supaya dapat
sama-sama mendidik anak dengan baik. Baby blues yang dalam taraf berat
bisa menjadi trauma baik bagi anak, ayah, maupun ibu. Jadi, sebaiknya
hindari dan atasi sedini mungkin agar tidak berakibat fatal. Hal yang paling penting, pahami
terlebih dahulu posisi suami sebelum kita menginginkan suami memahami
kita juga. Cukup adil bukan?


2 Komentar
wah, jadi tahu ya tentang Baby blues pada ayah
BalasHapusIya semoga bermanfaat. Jadi gak hanya ibu dan anak yang harus diperhatikan. Ayah juga😊
Hapus