![]() |
| Wening dan ibuk berpelukan |
Menyapih atau bisa dikatakan proses anak lepas dari ASI memang awalnya terlihat sangat sulit. Terlintas dalam benak ibu, apakah ibu dan anak siap? Ibu akan kesulitan tidur karena tiap malam anak akan rewel minta ASI. Bisa jadi menangis atau bahkan mengamuk karena sudah terbiasa minum asi kapan pun dan dimana pun. Ada beberapa alasan anak meminta ASI, ada yang minta ASI dengan alasan lapar, haus, sedih, marah, maupun alasan lain seperti kenyamanan. Bisakah ibu tega melihat anak menangis, mengamuk karena butuh ASI? Itu jugalah yang menjadi ketakutan pertama saya. Apalagi anak saya Wening sudah terbiasa minum ASI kapan pun dan dimana pun. Sempat terpikir juga bagaimana cara anak tidur padahal biasanya sebelum tidur harus minum ASI terlebih dahulu. Tidak hanya saya, ternyata teman-teman saya juga mengakui hal yang sama. Sempat dengar juga tips menyapih yang dilakukan orang-orang seperti mengolesi PD dengan balsem, jamu, segala hal yang pahit atau bahkan betadine, lipstik yang terlihat seperti darah seolah-olah PD ibunya terluka. Tips yang demikian itu dipercaya ampuh untuk mempercepat dan mempermudah proses menyapih. Namun, saya tidak ingin melakukan hal itu. Saya ingin menyapih dengan cara yang lebih jujur. Saya tidak mau membohongi Wening. Saya tidak mengatakan cara itu buruk. Tetapi saya lebih memilih cara yang lain untuk menyapih.
Dukungan dari suami
Alhamdulillah setelah sekian lama memantapkan hati dan melihat kesiapan Wening, saya akhirnya memutuskan untuk menyapih Wening seminggu sebelum ulang tahunnya yang ke-2. Pertama-tama saya sudah meminta dukungan suami. Saya sangat membutuhkan dukungan dan bantuan suami saya untuk menyapih karena saya tidak bisa melakukannya sendiri.Memberikan pengertian kepada anak
![]() |
| Wening minum susu formula |
Melihat kesiapan anak untuk disapih
Sebelum melakukan proses menyapih, terlebih dahulu ibu harus melihat kesiapan anak. Ada beberapa ciri anak siap menyapih, seperti menyusu hanya sebentar-sebentar saja seolah hanya dengan alasan kenyamanan, bisa tidur tanpa harus sambil menyusu dahulu walaupun itu dilakukan dengan cara memberikan pengalihan kepada anak dan mengusapi punggung sampai tidur.Ibu harus menaruh perhatian lebih ketika menyapih
Pada saat malam pertama menyapih, saya dan suami mengajak Wening main sampai dia mengantuk. Hari pertama menyapih Wening main sampai sekitar jam 10 malam. Ia lantas kecapekan dan mengantuk. Seperti biasa minta ke kamar dan minta menyusu saya. Lantas saya dengan tegas bilang kalau Wening sudah besar. Ia sudah tidak boleh minum ASI lagi supaya badannya juga tambah besar dan tambah pintar. Saya menyuruh ia balik badan supaya tidak melihat payudara saya dan tidak kepikiran tentang ASI. Saya mengusap punggungnya sampai ia tertidur. Begitu juga ketika tengah malam ia terbangun. Beberapa jam sekali Wening terbangun dan selalu meminta ASI. Tapi saya tolak dengan tegas pula. Saya selalu katakan ia sudah besar dan menawarkan susu formula sebagai pengganti.Suka duka saya ketika menyapih
Sekitar tiga hari Wening sempat rewel dan harus diusapi punggungnya kalau mau tidur. Saya pun kerap kali merasa sedih karena sudah terbiasa tidur sambil menyusui dan sambil berpelukan dengan anak. Setiap malam, setiap Wening menangis ingin menyusu, saya harus tega untuk bilang tidak. Bahkan pada malam kedua menyapih saya sempat menangis dan berkata “walaupun tidak menyusui lagi, ibu tetap sayang Wening”. Suami juga sering jadi tempat keluh kesah saya. Betapa saya merasa patah hati dalam proses menyapih ini. Payudara saya bengkak dan sakit tapi saya katakan hati saya lebih sakit. Tetapi suami menguatkan. Ini poin terpenting, meminta dukungan suami sebelum menyapih itu sangat dibutuhkan. Setelah tiga hari menyapih, Wening lebih tenang, sudah bisa tidur sendiri, dan tidak perlu diusap lagi. Tengah malam pun sudah jarang terbangun kecuali ketika ingin pipis saja. Tidurnya juga semakin nyenyak. Tidak hanya Wening, saya juga jadi bisa tidur nyenyak. Sekitar seminggu kemudian PD saya tidak terasa sakit lagi. Efek positif menyapih yang saya dan Wening rasakan membuat saya semakin ikhlas dan bahagia. Yang paling terlihat selain tidur yang nyenyak, Wening jadi lebih mudah lapar dan haus. Wening tipe anak yang susah diajak makan dan minum susu formula, tiba-tiba saja makan dan minum susu formulanya jadi lebih lahap. Tiap waktu minta makan dan minum susu formula. Berat badannya pun akhirnya naik. Padahal sebelumnya sempat stagnan. Saya sempat hampir putus asa dengan badan Wening yang semakin terlihat kurus. Sejak menyapih, badannya terlihat berisi dan lebih aktif. Untuk meredam rasa “patah hati” gara-gara menyapih, saya dan Wening sering mengungkapkan rasa sayang dengan cara memberikan pelukan. Kami jadi merasa tetap dekat dan bahagia bersama.Dari awal memang saya bertekad untuk bisa menyapih Wening dengan cinta, dengan benar-benar memberikan sugesti kalau memang sudah waktunya menyapih. Saya tidak ingin membohongi dengan cara mengolesi payudara dengan apapun yang dapat membuat anak tidak mau menyusu lagi karena saya merasa saya juga tidak mau dibohongi. Sebisa mungkin saya tidak membohongi Wening agar ia bisa lebih percaya saya. Saya tidak mau ia akan tumbuh besar dengan rasa tidak percaya kepada kedua orang tuanya.
Proses menyapih memang tidak mudah. Tapi saya yakin pasti bisa. Saya juga tidak secara mendadak mengajak Wening menyapih. Jauh-jauh hari sebelumnya, saya sudah mulai mengurangi intensitas menyusui. Saya tidak menawari Wening untuk menyusu dan juga tidak selalu memberikan ketika diminta. Ketika Wening sudah terlalu lama menyusui dan tidak juga tidur, saya juga akan menyuruhnya balik badan dan saya usap punggungnya supaya tidur. Lama kelamaan Wening juga mulai mengerti. Prosesnya memang panjang untuk dapat berhasil menyapih. Tapi sukses menyapih dengan cinta pasti bisa dilakukan. Tidak perlu muluk-muluk. Cukup sering mensugesti anak bahwa anak sudah besar sehingga saat sudah yakin memulai proses menyusui, anak pun lebih mudah mengerti. Mengurangi intensitas menyusu juga perlu agar bisa membiasakan anak untuk tidak “sebentar-sebentar” menyusu. Jangan lupa sering tunjukkan kepada anak tentang cinta dan sayang dari ibu. Sehingga ia tetap merasa disayang dan tetap merasa dekat dengan ibunya. Sulit? Tidak juga. Ketika sudah melewati masa sukses menyapih, saya merasa lebih lega. Akhirnya proses menyapih berhasil kami lewati dengan penuh cinta.



0 Komentar